Cerita Punggung

Sebuah punggung, dan kamu. Pada awalnya hanya sebuah cerita tentang cacing muda dalam punggungmu. Sigap bergerak, di punggung. Kemudian kamu tunjukkan punggung merah jambu itu padaku. “Dulu, cacing ini sering pindah-pindah,” ungkapnya seraya menunjukkannya padaku. Tapi aku hanya melihat sebuah punggung, punggung yang indah.

Entah, apa kala itu kamu nyaman membuka t-shirt-mu didepanku. Kemudian menunjukkan punggungmu. Bahkan aku masih ingat warna kaosmu, kuning terang, Itu kaos ibumu, katamu.

Sayang, apa kamu ingat, aku hanya diam saja kala itu. Aku takut, kaget. Karena itu pertama kali aku melihat kamu membuka bajumu. Sebuah pertanyaan muncul, “Apa ini juga pertama kalinya kamu membuka baju untuk seorang lelaki?”. Entahlah, aku tak pernah tau jawabannya. Toh, aku tak pernah menanyakan hal itu padamu.

Yang aku ingat, aku mencium punggung itu

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Goa Gunung Kidul

“Jika ada batu tersusun rapi di depan goa, itu berarti tanda untuk tidak mengganggu petapa.”

Kalo oleh-olehnya cerita, boleh dong? Begitu sambut saya ketika pulang menyambangi Goa Pindol, Gunung Kidul. Trus apa ceritanya?

Syahdan,

Berkunjung ke Yogyakarta adalah suatu hal, menyambangi daerah pariwisata adalah hal lain. Asal tau saja, ketika kami di Yogya, kami bingung harus menyambangi wisata jenis apa di kota ini. Lengkap, mulai dari wisata bahari, wisata kuliner, hingga plesiran wisata budaya. Hingga, tercetuslah untuk menyambangi Goa Pindol di Gunung Kidul.

Awalnya adalah bermalam di salah satu penginapan di Sosrowijayan dengan harga murah, tidak sampai 125 ribu per malam. Malah, harga tersebut sudah dibagi dengan 2 kawan lainnya.

Selamat pagi

Pagi, semula adalah sarapan, kemudian menumpang bis Jalur 4 melaju menuju Joinangun. Harga? hanya Rp 3000 untuk tiap orang. Sesampai di Joinangun kami beranjak mencari bis menuju Wonosari [1].

Selamat datang di Goa pindol

Disambut kandang sapi?

Lucu, sesampai di Goa Pindol, tawa terkekeh segera menjelma jadi bahak tawa. Pasalnya setelah disambut beberapa orang pengasuh desa wisata tersebut, kami dijamu di dalam kandang sapi. Yup, kandang sapi berukuran sekitar 4 x 2 meter tersebut didapuk menjadi basecamp para pemandu desa wisata yang terletak di dusun Gelaran 1, desa Bejiharjo, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunungkidul.

Sekedar ngece mungkin, menertawakan orang-orang kota yang belingsatan karena kadar oksigen yang semakin menurun, serta hutan beton yang semakin merajalela.

goa gelatik

Ruang Sakral dan Ular Jelmaan

Sebenarnya goa-goa yang kami sambangi masih memiliki unsur mistis. Bahkan goa Gelatik masih sering dihuni sebagai tempat tapa. “Jika ada batu tersusun rapi di depan goa, itu berarti tanda untuk tidak mengganggu petapa,” ujar pemandu wisata di sana.

Karena klenik, beberapa tempat dalam goa tersebut tidak boleh kami datangi. Bahkan menurut pemandu, disana masih terdapat ular besar jelmaan sebagai penunggu tempat tersebut. Terkadang beberapa orang yang memiliki kelebihan, bisa menyaksikannya. “Ular itu hanya sekedar menyapa, bahwa dirinya ada.”

Goa Pindol - Zona Terang

Sementara Goa Pindol, juga memiliki keunikannya sendiri. Goa tersebut dibagi menjadi 3 zona. Zona gelap, zona remang-remang, kemudian zona terang. Yang menarik , masing-masing ruangan tersebut memiliki tempat bertapa padahal kedalaman goa Pindol sendiri mulai dari 5 meter hingga 15 meter dari permukaan tanah. Kami sendiri memakai pelampung untuk menyambangi tempat tersebut dan dijaga oleh 3 pemandu sekaligus. Tidak heran, suatu ketika tentara Jepang tidak berani masuk ke dalam goa ketika berhadapan dengan prajurit Jawa.

Beberapa lembar uang ratusan ribu kami relakan untuk menggantikan pengalaman menyusuri Kali Oyo, Goa Pindol, dan Goa Gelatik plus sajian teh Rosela dan bakso yang menjadi penghangat setelah turun hujan. Hari sisanya, kami menuju ke pantai Kukup.

pantai Kukup Catatan: [1] Jika ingin langsung meluncur ke Goa Pindol, sebaiknya mencari bis besar, karena bis kecil tidak melewati jalur goa Pindol.

Posted in jalan, Jogja | Leave a comment

Frau

FrauNamanya Leilani Hermiasih Suyenaga, itu juga kalo saya gak salah. Tapi saya langsung kesengsem waktu denger dentingan piano dari wanita ini. DIkenal dengan nama band Frau, bahasa Jerman yang kurang lebih artinya perempuan.

Oskar, panggilan untuk Roland RD 700SX-nya pun digadang-gadang sebagai anggota band-nya. Katanya, hasil karya ini merupakan hasil percakapan antara Lani dengan Oskar . Sebuah ruang dialog.

Bukan hanya dentingan piano yang saya suka dari karya Frau, kekuatan liriknya juga saya suka. Contohnya karya Cat and Rat. Eh ini contoh lho

Long weird teeth and stupid smile
And smelly breath and dirty coat
Selfish boy and stupid rat
And never will he change to a nicer rat, change to a nicer rat
Change, change, change, change

Sebuah ungkapan benci tapi rindu dalam bahasa kucing dan tikus. Sebuah perumpamaan.

Ketika nada-nada not balok dibentangkan atas nama kesenangan, hasilnya adalah kepuasan batin dan totalitas nada. Ah, ini sih ungkapan sok tau saya. Tapi selama beberapa hari ini, album Frau Starlit Carousel [1], berhasil menggantikan malam-malam saya mendengarkan musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono [2]

Notes:

[1] http://frau.bandcamp.com/

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono

Posted in music | Tagged , | Leave a comment

Ganti tahun?

Pesawat

Kemudian sebuah pertanyaan meluncur? “Apa yang ingin saya lakukan sekarang?”

Ya saya sadar, tahun sudah berganti, saat ini adalah 2011. Tapi saya juga sadar, meski tahun berubah, tetapi dunia toh tetap sama. Perkara macet yang parah, kadar oksigen diudara Jakarta yang rendah. Pagi, siang, malam penuh resah. Toh sama bukan?

Ternyata yang mesti berubah itu ya saya sendiri, ndak ndumel lagi soal keadaan sekitar, tapi mesti lebih banyak bersyukur dan lebih cerdas mengakalinya.

Merakit pesawat?

Ternyata merakit pesawat itu bukan perkara mudah. Rakitan yang baik perlu waktu bertahun-tahun, penuh teliti dan pertimbangan, supaya kalo pesawatnya bisa terbang, nanti gampang dikendalikan dan tahan sama pengaruh cuaca. Jangan sampai sekali kesenggol awan, terus nyusruk. Lha kalo gitu kan jelas ndak elok!

Bukan cuma sekedar terbang saja yang diincar, lha kalo cuman bisa terbang aja mah gampang. Tapi ya itu tadi, perlu ketelitian perakit dan ketenangan pilot untuk membuatnya terbang dengan apik.

Tahun ini, saya mau merakit lebih detil semua pesawat saya. “Lha emang pesawatnya banyak wan?”. Lha iya, mampu kok.

Image: Matt Steven

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Circular Quay, Sydney

Circular Quay, Sydney, pagi hari.

Saya ingat betul pemandangan disana, kota yang basah, cuaca gerimis dan berangin, awan yang agak kehitaman, suara desiran air di pelabuhan, cicit burung camar. Tertib.

Gelagat intro sebuah pagi untuk menghadapi hiruk pikuk kota.

Circular Quay, Sydney

Circular Quay, Sydney

Jam 06:45 waktu Sydney. Terlihat Sydney Opera berdiri megah di sisi kanan, disandingkan dengan jembatan lengkung kota Sydney, semua terlihat cantik, apik.

Tapi kok rasanya ndak lengkap tanpa kamu

Circular Quay Shoreline

Posted in jalan, pelangi, travel | Leave a comment

Pre-Flight Tension (PFT)

Apa situ pernah ngerasain gelisah waktu nunggu pesawat di bandara?  Bolak-balik ngecek passport atau ngecek nomer tempat duduk di pesawat? Selalu ngecek jam berangkat pesawat?

Itu artinya situ mengalami tingkat stress yang dalam istilahnya disebut Pre-Flight Tension (PFT). Kondisi dimana seseorang mengalami ketegangan ketika ingin bepergian terutama via pesawat.

Tapi tenang, berdasarkan survey dari airport Sydney, hal ini bisa dialami satu dari empat orang. Meski demikian gak semua orang sadar bahwa ini adalah gejala psikologis.

passport

Jalan-jalan bisa bikin stress?

Jadi maksud lu meski pengen jalan-jalan dan nunggu pesawat di bandara bisa bikin stress wan? Betul. Terutama kalo kita jalan-jalan keluar negeri, bukan cuma semangat dan sukacita yang ada, tapi bisa juga tegang.

Penyebabnya bisa dimulai dari memikirkan dokumen apa aja yang mesti dibawa, isi koper yang mesti ditenteng, sampai mikirin segala sesuatu yang ditinggalin dirumah, contohnya: binatang peliharaan, atau sanak keluarga.

Berdasarkan survey yang sama, 35 persen pria mengecek passport sampe 2-3 kali. Nah ngecek passport berulang kali ini sering disebut Obsessive Passport Disorder (OPD). Sementara 48 persen wanita mengalami OPD ini diikuti dengan bersin-bersin atau malah keringetan.

Lainnya, 28 persen orang cemas sebelum mereka berangkat. 26 persen responden bahkan ngacak-ngacak lagi tas mereka karena takut ketinggalan sesuatu.

Trus gimana cara ngatasinnya?

Gampang, caranya rencanakan perjalanan kamu dan datanglah ke bandara lebih awal. Datang lebih awal memiliki keunggulan untuk memastikan kalo ada perubahan jadwal kedatangan pesawat, kita udah siap. Apalagi kalo liat kondisi penerbangan di Jakarta yang tiba-tiba bisa dimajuin atau bahkan dimundurin secara mendadak.

Sisanya senang-senang di bandara dengan mengunjungi dagangan disana :D

Nah kalo tiba-tiba di bandara situ berulang kali ngecek tiket atau passport, atau malah ngucur banyak keringat karena tegang.  Bisa jadi situ ikutan kena gejala ini.

Selamat berlibur!

Posted in flight, jalan, luar neger, pft, travel | Leave a comment

Get into Australia

Pagi hari, sebuah surat elektronik meluncur ke dalam inbox saya.

get into Australia

get into Australia

“As a VMware Certified Professional, I would like to personally invite you to attend the region’s leading cloud computing and virtualization event – vForum 2010.” Sebuah undangan dari pembesar VMware Australia.

Sebuah surat elektronik ternyata bisa menjadi kado yang luar biasa untuk ulang tahun saya kali ini.

Setelah pengajuan sponsor dari perusahaan saya disepakati, VISA dan tiket menuju Sydney pun bisa dicetak, dan beberapa hari setelahnya saya pun menyambangi Sydney.

*Terima kasih untuk IBM yang telah menjadi sponsor menyambangi Forum cloud computing vForum2010*

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjual Pelangi

Teh panas, keripik pedas dan senja di stasiun. Senja yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah, dan aku tetap ingat kamu…

“Hari ini, aku kembali lagi ke Bogor,” kataku. “Untuk apa? Mencari matahari disana?” perempuan matahari itu menjawab.

Selama ini, kota hujan selalu menjadi pelarianku ketika perempuan itu kembali mencabik hatiku. Entah kenapa kota itu menjadi pengganti dirinya, padahal hanya itu-itu saja daerah yang kujelajahi.

“Bukan… semuanya hanya untuk mengenang dirimu. Aku mencari pelangi, selama masih ada pelangi, aku masih yakin akan cintaku padamu, pelangi itu menjadi peganganku untuk tetap mencintaimu,”  pemuda penuh harapan itu menjawab.

“Jangan cari pelangi, carilah perempuan matahari lain, aku kini tidak mencintaimu lagi”

Lamat-lamat seperti terdengar Robbie William mengalunkan lagu

Rest assured my angels
Will catch my tears
Walk me out of here
I’m in pain [1]

Referensi:

[1] Better man, Robbie William, Album Sing When You’re Winning

Posted in meyehmeyeh, pelangi | 3 Comments

Open Source mati di tangan Oracle?

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Oracle, perusahaan software bisnis raksasa terhadap Sun Microsystem. Setelah berhasil meminang Sun Microsystem senilai USD 7,4 miliar, pertanyaan yang pertama muncul di benak saya adalah, apakah ini awal kematian open source?

Sun, yang dibantu jejaring komunitas dalam menguatkan produk-produknya, merupakan garda terdepan dalam peredaran software opensource. Sebut saja Java, sebuah bahasa pemrograman yang berhasil merajalela dan bersarang di pikiran (hampir) setiap programmer. Bahkan oleh Tiobe [1] bahasa pemrograman ini didapuk menempati nomer wahid dirunut berdasarkan popularitas.

Sederet jagoan open source lain seperti OpenOffice, OpenSolaris, Netbeans, JavaFX juga bernaung di Sun, belum lagi MySQL, DBMS saingan Oracle yang baru saja dibeli Sun beberapa waktu lalu. Ini berarti Oracle yang notabene merupakan perusahaan komersil memiliki banyak amunisi hasil kerja bakti dunia open source.

Apatisme komunitas open source?

Lalu kenapa saya berpikir kejadian ini bakal menjadi pemicu kematian open source? Saya membayangkan hal terburuk yang ada di pikiran komunitas open source. Jika saya merupakan salah satu penggiat open source, tentunya saya akan lebih berhati-hati menggarap project open source yang nantinya bisa saja berubah menjadi sebuah produk komersil.

Tentu saja, ketika dunia open source sudah bergabung dengan produk komersil, ini akan mengganggu pakem yang selama ini dianut dunia open source. Penggiat ini akan berusaha menerka-nerka siklus hidup produk buatannya, malah bisa jadi mereka menjadi apatis terhadap dunia open source.

Daud Vs Goliath?

Namun saya yakin ini adalah proses sinkronisasi sebuah peradaban. Jika benar open source sudah diminati dunia, tentu saja ini bukan lagi pertarungan antara Daud dan Goliat, sebuah pertarungan antara sang raksasa dan jagoan (yang dianggap) tidak berdaya, melainkan sebuah tonggak sejarah kerjasama antara dua kubu yang berseteru. Lalu apa cerita selanjutnya terhadap produk yang akan diterbitkan perusahaan yang digawangi Larry Ellison tersebut, saya pun tak sabar menunggu.

Bagaimana pendapat Anda?

Notes:

[1] http://www.tiobe.com/index.php/content/paperinfo/tpci/index.html

Posted in open source | 1 Comment

Jogja Juga Goes Open Source

Jogjakarta, Gerakan Indonesia Goes Open Source (IGOS) yang dikumandangkan pemerintah, menggugah komunitas open source di Jogja untuk membuat hal serupa. Dengan semangat kemerdekaan RI yang ke-60, kota pelajar ini pun ikutan menggalakkan penggunaan software open source.

Gerakan IGOS yang digembar-gemborkan demi menggalakkan pengembangan dan pemanfaatan open source software (OSS), saat ini didukung oleh adanya Jogja Goes Open Source (JGOS).

JGOS saat ini didukung oleh Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PPTIK) Universitas Gajah Mada dan KKN Cyber 2005. “Jogja sebagai salah satu kota yang dipersiapkan menjadi contoh perkotaan cyber, harus siap menghadapi segala kemungkinan termasuk migrasi ke sistim operasi open source (OS),” ujar Kemas M. Fadhli, Koordinator KKN cyber 2005, seperti dikutip detikinet Jogja, Kamis (18/8/2005). KKN Cyber merupakan salah satu jenis program Kuliah Kerja Nyata di UGM.

“Sebagai langkah awal, kegiatan JGOS ini kami tujukan untuk mengenalkan teknologi open source kepada masyarakat Jogja yang awam akan teknologi terkait. Untuk itu kami akan menyelenggarakan seminar,” papar Luqman, Ketua Panitia dari seminar nasional JGOS.

Seminar yang bertema “Open Source Technology” ini akan diselenggarakan pada tanggal 23 Agustus 2005 di Magister Manajemen Universitas Gajah Mada.

“JGOS bukan saja berarti Jogja Goes Open Source, tetapi bila ditilik dalam bahasa jawa sesuai dengan cara bacanya yaitu ‘jegos’ dapat berarti mampu. Dan saya yakin Jogja–pada khususnya UGM–mampu untuk mengembangkan dan bahkan menggunakan software open source,” papar Drs. Bambang Nurcahyo Prastowo M.Sc, penggagas ide pemasyarakatan software open source di Jogja, yang juga Kepala PPTIK UGM.

UGM sendiri sebagai barometer kota Jogja telah membuat beberapa situs yang berkaitan dengan adanya gerakan penggunaan software open source. Misalnya, osi.ugm.ac.id dan info.ugm.ac.id. Situs-situs ini terdapat di link-link mirror situs-situs open source. Software open source serta sistem operasi open source dapat di-download langsung dari situs tersebut.

“Kami akan terus mengembangkan sistim ini, agar dapat digunakan sehingga dapat terus mensosialisasikan gerakan open source,” imbuh Fadhli.

JGOS mendukung program KPLI (Komunitas Pengguna Linux Indonesia) di Jogjakarta. Ke depannya, program ini ditujukan untuk membangun sumber daya manusia yang bisa bersaing secara global.

Pernah dimuat di DetikInet 20 Agustus 2005

Posted in Jogja, open source | Tagged , | Leave a comment