“Jika ada batu tersusun rapi di depan goa, itu berarti tanda untuk tidak mengganggu petapa.”
Kalo oleh-olehnya cerita, boleh dong? Begitu sambut saya ketika pulang menyambangi Goa Pindol, Gunung Kidul. Trus apa ceritanya?
Syahdan,
Berkunjung ke Yogyakarta adalah suatu hal, menyambangi daerah pariwisata adalah hal lain. Asal tau saja, ketika kami di Yogya, kami bingung harus menyambangi wisata jenis apa di kota ini. Lengkap, mulai dari wisata bahari, wisata kuliner, hingga plesiran wisata budaya. Hingga, tercetuslah untuk menyambangi Goa Pindol di Gunung Kidul.
Awalnya adalah bermalam di salah satu penginapan di Sosrowijayan dengan harga murah, tidak sampai 125 ribu per malam. Malah, harga tersebut sudah dibagi dengan 2 kawan lainnya.
Selamat pagi
Pagi, semula adalah sarapan, kemudian menumpang bis Jalur 4 melaju menuju Joinangun. Harga? hanya Rp 3000 untuk tiap orang. Sesampai di Joinangun kami beranjak mencari bis menuju Wonosari [1].

Disambut kandang sapi?
Lucu, sesampai di Goa Pindol, tawa terkekeh segera menjelma jadi bahak tawa. Pasalnya setelah disambut beberapa orang pengasuh desa wisata tersebut, kami dijamu di dalam kandang sapi. Yup, kandang sapi berukuran sekitar 4 x 2 meter tersebut didapuk menjadi basecamp para pemandu desa wisata yang terletak di dusun Gelaran 1, desa Bejiharjo, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunungkidul.
Sekedar ngece mungkin, menertawakan orang-orang kota yang belingsatan karena kadar oksigen yang semakin menurun, serta hutan beton yang semakin merajalela.

Ruang Sakral dan Ular Jelmaan
Sebenarnya goa-goa yang kami sambangi masih memiliki unsur mistis. Bahkan goa Gelatik masih sering dihuni sebagai tempat tapa. “Jika ada batu tersusun rapi di depan goa, itu berarti tanda untuk tidak mengganggu petapa,” ujar pemandu wisata di sana.
Karena klenik, beberapa tempat dalam goa tersebut tidak boleh kami datangi. Bahkan menurut pemandu, disana masih terdapat ular besar jelmaan sebagai penunggu tempat tersebut. Terkadang beberapa orang yang memiliki kelebihan, bisa menyaksikannya. “Ular itu hanya sekedar menyapa, bahwa dirinya ada.”

Sementara Goa Pindol, juga memiliki keunikannya sendiri. Goa tersebut dibagi menjadi 3 zona. Zona gelap, zona remang-remang, kemudian zona terang. Yang menarik , masing-masing ruangan tersebut memiliki tempat bertapa padahal kedalaman goa Pindol sendiri mulai dari 5 meter hingga 15 meter dari permukaan tanah. Kami sendiri memakai pelampung untuk menyambangi tempat tersebut dan dijaga oleh 3 pemandu sekaligus. Tidak heran, suatu ketika tentara Jepang tidak berani masuk ke dalam goa ketika berhadapan dengan prajurit Jawa.
Beberapa lembar uang ratusan ribu kami relakan untuk menggantikan pengalaman menyusuri Kali Oyo, Goa Pindol, dan Goa Gelatik plus sajian teh Rosela dan bakso yang menjadi penghangat setelah turun hujan. Hari sisanya, kami menuju ke pantai Kukup.
Catatan: [1] Jika ingin langsung meluncur ke Goa Pindol, sebaiknya mencari bis besar, karena bis kecil tidak melewati jalur goa Pindol.